Pancasila dalam Kajian Sejarah:

Oleh: Tim Penyusun, Diupdate 13 Januari 2026

Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi nasional Indonesia, merupakan hasil dari proses perumusan yang panjang dan kompleks yang melibatkan berbagai tokoh pendiri bangsa dengan latar belakang ideologi berbeda. Sejak diusulkan oleh Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945, Pancasila telah menjadi fondasi konstitusional bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)[1]. Namun, perjalanan Pancasila dalam sejarah bangsa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai ideologi murni, melainkan juga mengalami dinamika interpretasi dan implementasi yang berbeda-beda sesuai dengan periode pemerintahan dan tantangan sosial-politik yang dihadapi[2].

Penelitian ini mengkaji Pancasila dari perspektif sejarah, menganalisis bagaimana ideologi ini lahir, bagaimana diterapkan dalam berbagai era pemerintahan—dari Orde Lama hingga Era Reformasi—dan bagaimana relevansinya dalam menghadapi tantangan kontemporer di era digital dan globalisasi. Dengan memahami sejarah Pancasila secara komprehensif, kita dapat menghargai nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalamnya serta mengidentifikasi tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan Pancasila tetap relevan sebagai perekat kesatuan bangsa.


1. Latar Belakang Sejarah dan Era Pra-Kemerdekaan

1.1 Kesadaran Nasional dan Gerakan Nasionalis Indonesia

Pada awal abad ke-20, gerakan nasionalisme Indonesia berkembang pesat sebagai respons terhadap kolonialisme Belanda yang telah berlangsung selama kurang lebih 350 tahun[3]. Munculnya organisasi-organisasi seperti Indische Vereeniging, Sarekat Islam, dan gerakan kiri mendorong bangsa Indonesia untuk menemukan kembali identitas nasional yang telah hilang akibat penjajahan[4]. Kesadaran ini menjadi katalis bagi para pemimpin nasional untuk merumuskan dasar-dasar ideologi yang dapat menyatukan keragaman agama, budaya, dan tradisi masyarakat Indonesia.

Pada tahun 1930-an, Ir. Soekarno mengusulkan tiga ideologi besar sebagai dasar gerakan kemerdekaan Indonesia: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme[5]. Sementara itu, tokoh-tokoh lain seperti Tan Malaka dan Tjokroaminoto juga berkontribusi dalam diskursus penentuan identitas nasional, dengan Tan Malaka menjadi yang pertama menggunakan istilah “Indonesia” dalam bukunya “Naar de Republiek Indonesië” (Menuju Republik Indonesia Merdeka)[6].

1.2 Konteks Latar Belakang Perumusan Pancasila

Perumusan Pancasila tidak dapat dipisahkan dari konteks Perang Dunia II yang berlangsung pada periode 1945. Setelah kekalahan Jepang di Perang Pasifik, pemerintah Jepang mengambil langkah strategis dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia untuk mendapatkan dukungan dalam melawan tentara Sekutu[7]. Sebagai bagian dari strategi ini, pada 1 Maret 1945, Jepang membentuk Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang beranggotakan tokoh-tokoh nasionalis, intelektual, dan perwakilan berbagai kelompok masyarakat Indonesia[8].

Tugas utama BPUPKI adalah merumuskan dasar filosofis dan konstitusional bagi negara Indonesia yang akan didirikan setelah kemerdekaan. Dalam sidang pertamanya yang berlangsung dari 29 Mei hingga 1 Juni 1945, BPUPKI menghadapi pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat selaku ketua BPUPKI: “Apa dasar negara Indonesia merdeka?”[9]


2. Perumusan Pancasila dan Kontribusi Tokoh-Tokoh Pendiri Bangsa

2.1 Usulan Muhammad Yamin (29 Mei 1945)

Dalam merespons pertanyaan Radjiman, Muhammad Yamin memberikan proposalnya yang terdiri dari lima prinsip dasar yang kemudian menjadi inspirasi bagi formasi Pancasila. Kelima prinsip tersebut adalah: (1) Peri Kebangsaan, (2) Peri Kemanusiaan, (3) Peri Ketuhanan, (4) Peri Kerakyatan, dan (5) Kesejahteraan Rakyat[10]. Usulan Yamin menunjukkan pemikiran sistematis yang mengintegrasikan nilai-nilai nasional, humanistik, religius, demokratis, dan ekonomi-sosial.

2.2 Usulan Soepomo (31 Mei 1945)

Dua hari setelah Yamin, Soepomo menyampaikan pandangannya yang menekankan konsep negara integralistik. Usulan Soepomo mencakup lima prinsip: (1) Ketuhanan, (2) Kemanusiaan, (3) Persatuan, (4) Permusyawaratan, dan (5) Keadilan atau Kesejahteraan[11]. Pemikiran Soepomo dipengaruhi oleh teori negara organik yang melihat negara sebagai kesatuan yang integral antara pemerintah dan rakyat, berbeda dengan konsep negara liberal maupun komunis[12].

2.3 Gagasan Ir. Soekarno (1 Juni 1945) – Kelahiran Pancasila

Puncak dari perumusan Pancasila adalah pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai “Lahirnya Pancasila.” Dalam pidato yang bersifat spontan namun terukur ini, Soekarno mengusulkan dasar negara yang dinamai “Pancasila” dengan lima prinsip dasar[13]:

  1. Kebangsaan Indonesia (atau Nasionalisme)
  2. Perikemanusiaan (atau Internasionalisme)
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Soekarno mengkonsolidasikan ide-ide dari Yamin dan Soepomo sambil memberikan dimensi filosofis yang lebih mendalam. Istilah “Pancasila” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, di mana “Panca” berarti lima dan “Sila” berarti asas atau prinsip[14]. Soekarno menekankan bahwa Pancasila bukan hanya sekadar kumpulan prinsip, melainkan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan atau ditukar tempatnya.

2.4 Piagam Jakarta dan Penetapan Pancasila

Setelah pidato Soekarno, dibentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari para tokoh representatif untuk menyempurnakan rumusan Pancasila. Hasil kerja panitia ini adalah Piagam Jakarta yang ditandatangani pada 22 Juni 1945[15]. Dalam Piagam Jakarta, rumusan Pancasila mengalami sedikit perubahan dalam redaksi, terutama pada sila pertama yang berbunyi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” (yang kemudian dikenal sebagai “tujuh kata”).

Namun, setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, muncul kekhawatiran bahwa redaksi sila pertama dalam Piagam Jakarta dapat dianggap diskriminatif terhadap penganut agama selain Islam. Oleh karena itu, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, “tujuh kata” tersebut dihilangkan dan sila pertama dirubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” untuk menjamin persatuan semua elemen masyarakat Indonesia yang beragam agama[16].

Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI secara resmi menetapkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan menempatkannya dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Rumusan final Pancasila yang ditetapkan adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

3. Pancasila dalam Era Orde Lama (1945-1966)

3.1 Periode Awal Kemerdekaan dan Revolusi (1945-1950)

Dalam periode awal kemerdekaan, Pancasila diimplementasikan sebagai dasar untuk membangun konsensus nasional di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda[17]. Pada fase ini, nilai persatuan dan kesatuan bangsa sangat kuat, didorong oleh spirit anti-kolonialisme yang sama di antara berbagai elemen masyarakat. Pancasila diposisikan sebagai platform umum yang dapat diterima oleh berbagai kelompok ideologi untuk bersatu dalam menghadapi tantangan eksistensi negara.

3.2 Era Demokrasi Liberal (1950-1959)

Setelah fase revolusi fisik berakhir dengan Konferensi Meja Bundar (1949), Indonesia memasuki periode demokratisasi dengan UUD Sementara (UUDS) 1950. Pada masa ini, Pancasila mengalami interpretasi yang berbeda, tidak lagi ditafsirkan secara sempit sebagai ideologi internal, melainkan sebagai manifestasi dari spirit anti-kolonialisme di tingkat global[18].

Soekarno mempromosikan ide internasionalisme Pancasila melalui konsep “Gerakan Non-Blok” yang diresmikan dalam Konferensi Bandung pada 1955. Konferensi ini mengumpulkan negara-negara bekas jajahan dari Asia dan Afrika untuk membangun aliansi dan menentukan sikap mereka di tengah pertarungan antara Blok Barat (kapitalisme liberal) dan Blok Timur (komunisme)[19]. Soekarno percaya bahwa Pancasila, dengan nilai-nilainya tentang kemanusiaan dan keadilan sosial, menawarkan alternatif ideologi yang autentik bagi negara-negara berkembang.

Dalam dimensi ekonomi, implementasi Pancasila tercermin dalam upaya nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda pada 1957 sebagai realisasi dari sila kelima tentang keadilan sosial[20]. Namun, di tingkat domestik, sistem demokrasi liberal di bawah UUDS 1950 menghadapi krisis stabilitas akibat fragmentasi partai dan munculnya pemberontakan daerah (RMS, PRRI, Permesta) yang mencerminkan ketidakpuasan terhadap sentralisasi kekuasaan di Jawa[21].

3.3 Era Demokrasi Terpimpin (1960-1966)

Untuk mengatasi instabilitas politik dan ancaman disintegrasi, pada tahun 1959 Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang membatalkan UUDS 1950 dan mengembalikan Indonesia pada UUD 1945. Fase ini menandai dimulainya “Demokrasi Terpimpin” di mana Soekarno memperkuat posisi eksekutif dan memperkenalkan konsep NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme)[22].

Dalam konteks Perang Dingin global, Soekarno menginterpretasikan Pancasila sebagai ideologi yang mampu menyatukan tiga ideologi besar dunia dalam satu kerangka nasional: Nasionalisme (sebagai identitas bangsa), Agama/Islamisme (sebagai nilai spiritual), dan Komunisme (sebagai gerakan sosial untuk keadilan ekonomi)[23]. Strategi ini dirancang untuk mengatasi ketegangan antara kelompok militer dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terus meningkat pada akhir era Orde Lama.

Implementasi Pancasila pada periode ini juga tercermin dalam dokumen resmi bernama “Manipol USDEK” (Manifesto Politik-Undang-Undang Dasar 45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) yang mengklaim merupakan elaborasi dari prinsip-prinsip Pancasila[24]. Dalam bidang ekonomi, upaya reformasi agraria, penguatan koperasi, dan nasionalisasi perusahaan asing milik Belgia (1961), Inggris (1963), dan Amerika Serikat (1965) dilakukan atas dasar interpretasi Pancasila yang pro-rakyat dan anti-imperialisme[25].

Namun, strategi Soekarno untuk menyelaraskan NASAKOM pada akhirnya gagal ketika terjadi peristiwa G30S (Gerakan 30 September) pada 1965, yang mengakibatkan pembunuhan enam perwira tinggi militer dan mengarah pada pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Jenderal Soeharto[26]. Peristiwa ini menandai berakhirnya era Orde Lama dan dimulainya reinterpretasi radikal terhadap Pancasila di era Orde Baru.


4. Pancasila dalam Era Orde Baru (1966-1998)

4.1 Pancasila Sebagai Azas Tunggal

Memasuki era Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, Pancasila mengalami transformasi fundamental dalam penggunaannya sebagai alat kekuasaan negara. Melalui Tap MPRS No. II/1978, Pancasila ditetapkan sebagai “azas tunggal” bagi seluruh organisasi sosial, kemasyarakatan, dan keagamaan di Indonesia[27]. Kebijakan ini berarti bahwa setiap organisasi hanya diperkenankan memiliki satu azas ideologi, yaitu Pancasila yang ditafsirkan secara monopoli oleh penguasa.

Penetapan azas tunggal ini didasarkan pada justifikasi bahwa Pancasila perlu diposisikan sebagai ideologi negara yang tidak tertandingi demi menciptakan stabilitas politik dan ekonomi[28]. Namun, dalam praktiknya, kebijakan ini menghasilkan efek sebaliknya: Pancasila digunakan sebagai instrumen represi untuk menekan kebebasan berekspresi dan menghilangkan suara-suara kritis yang dianggap mengancam stabilitas.

4.2 Ideologisasi Pancasila dan Kontrol Sosial

Salah satu ciri khas era Orde Baru adalah “ideologisasi” Pancasila di seluruh aspek kehidupan sosial, dari sektor pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga kehidupan kampus[29]. Program pemasyarakatan Pancasila yang paling terkenal adalah P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diprakarsai melalui Keputusan MPRS No. II/MPR/1978.

Ideologisasi ini mengakibatkan matisuri (matinya) aktivisme mahasiswa dan penghambatan kebebasan berpikir di kalangan intelektual. Tokoh-tokoh yang dianggap kritis terhadap kebijakan ekonomi dan politik Soeharto, seperti aktivis dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH), mahasiswa ITB, dan anggota PDI, dicap sebagai kelompok “anti-Pancasila” dan dipenjara[30]. Contoh nyata dari represi ini terlihat dalam kasus penculikan aktivis pada 1997-1998 dan peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) pada 1974 yang melibatkan pemenjaraan aktivis LBH[31].

4.3 Reinterpretasi Sejarah Pancasila dan Peran Soekarno

Era Orde Baru juga ditandai dengan “penulisan ulang” sejarah Pancasila untuk memlegitimasi penguasa baru. Rezim Soeharto mereduksi peran Soekarno hanya sebagai “proklamator” kemerdekaan bersama Hatta, daripada sebagai “pemimpin revolusi kemerdekaan”[32]. Perubahan narasi sejarah ini dirancang untuk menghilangkan “warisan ideologis” Soekarno yang dianggap radikal dan pro-komunis.

Untuk memperkuat narasi baru ini, Orde Baru menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” yang merayakan keberhasilan militer atas komunisme pasca-G30S, menggantikan makna asli Pancasila sebagai konsep universalista dengan makna yang sempit sebagai “senjata ideologi melawan komunisme”[33].

4.4 Pancasila dan Pembangunan Ekonomi

Di bidang ekonomi, Orde Baru menggunakan Pancasila sebagai justifikasi untuk model pembangunan yang berpusat pada pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Konsep “Demokrasi Pancasila” yang dipromosikan oleh Soeharto mengklaim bahwa pembangunan ekonomi adalah cara terbaik untuk merealisasikan keadilan sosial (sila kelima)[34].

Namun, dalam praktiknya, model pembangunan Orde Baru sarat dengan “Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme” (KKN). Kebijakan ekonomi negara dibajak untuk memenuhi kepentingan bisnis keluarga Cendana (keluarga Soeharto) dan elites militer, sementara rakyat kecil dan petani tetap menderita kemiskinan[35]. Nasionalisasi perusahaan asing yang menjadi simbol keadilan sosial di era Soekarno malah berubah menjadi instrumen untuk mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi di tangan segelintir orang.

4.5 Penggunaan Pancasila sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan

Secara keseluruhan, era Orde Baru menunjukkan bahwa Pancasila dapat dimanipulasi sebagai alat untuk membenarkan kepentingan penguasa. Partai Golkar (Golongan Karya), yang menjadi kendaraan politik Soeharto, menggunakan Pancasila sebagai konsep yang mampu “mengabadikan” kekuasaan selama 32 tahun[36]. Penggunaan Pancasila dalam cara ini menciptakan “sinisme” di kalangan masyarakat luas yang mulai mempertanyakan relevansi ideologi yang dipersepsikan hanya sebagai propaganda negara[37].


5. Pancasila di Era Reformasi (1998-Sekarang)

5.1 Krisis Kepercayaan dan Dekonstruksi Makna Pancasila

Ketika rezim Orde Baru tumbang pada tahun 1998 akibat gerakan rakyat, krisis ekonomi, dan desakan demokratisasi, Indonesia menghadapi krisis kepercayaan yang mendalam terhadap Pancasila[38]. Penggunaan Pancasila sebagai alat represi selama 32 tahun telah menciptakan persepsi negatif bahwa ideologi ini hanya berfungsi untuk membenarkan kepentingan penguasa dan menghilangkan kebebasan.

Selain itu, politisasi Pancasila oleh Orde Baru menciptakan antisipati (kebencian) di kalangan masyarakat daerah yang merasa diperlakukan tidak adil. Kritik terhadap kebijakan pembangunan yang terpusat di Jawa dicap sebagai “anti-Pancasila,” sehingga menimbulkan gerakan separatis di berbagai daerah (seperti di Aceh, Papua, dan Timor Timur) dengan tuntutan untuk memerdekakan diri dari NKRI[39].

5.2 Amandemen UUD 1945 dan Klarifikasi Nilai-Nilai Pancasila

Untuk mengatasi krisis kepercayaan dan ancaman disintegrasi, Indonesia melakukan Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 antara tahun 1999-2002. Proses amandemen ini melibatkan perumusan ulang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam konteks demokrasi modern dan perlindungan hak asasi manusia[40].

Hasil amandemen UUD 1945 berhasil mengklarifikasi nilai-nilai Pancasila yang diinterpretasikan terlalu sempit di era Orde Baru. Amandemen memperjelas bahwa Pancasila mengandung prinsip-prinsip fundamental seperti[41]:

  • Demokrasi yang genuin dan participatory
  • Desentralisasi dan penguatan pemerintah daerah
  • Negara hukum (rule of law)
  • Demokrasi ekonomi yang inklusif
  • Pengakuan terhadap masyarakat adat dan identitas lokal
  • Hak asasi manusia yang komprehensif
  • Pembatasan kekuasaan melalui sistem checks and balances
  • Perlindungan lingkungan hidup
  • Demokratisasi pendidikan

Dengan klarifikasi ini, Pancasila dipulihkan sebagai ideologi yang inclusive, humanis, dan demokratis, berbeda dengan interpretasi sempit di era Orde Baru.

5.3 Pelaksanaan Demokrasi Pasca-1998

Sejak 1999, Indonesia telah melaksanakan serangkaian pemilihan umum yang secara berkala dan demokratis (tahun 1999, 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024)[42]. Ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menerapkan prinsip demokrasi yang terkandung dalam sila keempat Pancasila.

Upaya-upaya lain untuk merealisasikan nilai-nilai Pancasila di era reformasi termasuk:[43]

  • Rekonsiliasi hak asasi manusia: Meskipun berjalan lambat, Indonesia telah membentuk lembaga-lembaga seperti Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) untuk menyelidiki pelanggaran HAM di masa lalu.
  • Reformasi hukum: Sistem hukum yang korup di masa Orde Baru telah diperbaiki melalui pembentukan lembaga-lembaga independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mahkamah Konstitusi.
  • Pemerataan pembangunan: Upaya untuk mewujudkan keadilan sosial (sila kelima) melalui program-program redistributif dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

6. Tantangan Kontemporer dan Relevansi Pancasila

6.1 Polarisasi Politik dan Fragmentasi Sosial

Di era kontemporer, Pancasila menghadapi tantangan baru yang berbeda dengan era sebelumnya. Pemilihan umum 2014 dan 2019 menunjukkan meningkatnya polarisasi di kalangan masyarakat, dengan pembagian yang tajam antara kelompok pendukung berbagai kandidat dan ideologi[44]. Polarisasi ini, yang diperkuat oleh penggunaan media sosial dan algoritma digital, mengancam nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila.

6.2 Mengikisnya Indeks Demokrasi Indonesia

Laporan-laporan internasional menunjukkan bahwa indeks demokrasi Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat semakin takut untuk berbicara dan menyatakan penolakan terhadap kebijakan negara, mencerminkan kembalinya budaya “self-censorship” yang pernah terjadi di era Orde Baru[45].

6.3 Oligarki Bisnis, Kartel Politik, dan Korupsi

Meskipun KPK telah dibentuk dan reformasi hukum telah dilakukan, oligarki bisnis, kartel politik, dan praktik korupsi masih merajalela di Indonesia[46]. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kelima tentang keadilan sosial, belum sepenuhnya terinstitusionalisasi dalam sistem ekonomi dan politik Indonesia.

6.4 Ancaman Disintegrasi dan Politisasi Agama

Salah satu tantangan paling serius adalah meningkatnya politisasi agama dan hiper-nasionalisme yang mengancam semangat pluralisme Pancasila. Gerakan-gerakan yang mencoba mengubah dasar negara atau menolak ideologi Pancasila atas nama agama telah muncul, mencerminkan ketidakcocokan antara nilai-nilai religius fundamental dengan ideologi nasional yang sekuler-inklusif[47].

Interpretasi Pancasila tidak lagi mencerminkan semangat internasionalisme dan kosmopolitanisme seperti di era Soekarno, melainkan cenderung mengarah pada nationalism yang eksklusif dan tribal.

6.5 Krisis Lingkungan dan Tantangan Global

Pancasila juga menghadapi tantangan dari isu-isu global kontemporer seperti perubahan iklim, krisis kesehatan global, dan ketidakpastian posisi Indonesia dalam konstelasi ekonomi dan politik global[48]. Nilai-nilai Pancasila perlu diinterpretasikan ulang untuk merespons tantangan-tantangan baru ini tanpa mengorbankan prinsip-prinsip fundamentalnya.

6.6 Masing-Masing Sila dan Tantangan Spesifik

Setiap sila Pancasila menghadapi tantangan tersendiri di era kontemporer:

  • Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Tantangan dari radikalisme agama dan fundamentalisme yang mengancam pluralisme.
  • Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Tantangan dari pelanggaran HAM, perdagangan manusia, dan ketidaksetaraan gender.
  • Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Tantangan dari separatisme, diskriminasi regional, dan kesenjangan pembangunan.
  • Sila Keempat (Demokrasi): Tantangan dari oligarki, manipulasi electoral, dan erosion of democratic norms.
  • Sila Kelima (Keadilan Sosial): Tantangan dari ketimpangan ekonomi yang semakin parah, poverty, dan ketidakadilan distributif.

7. Pancasila Sebagai Instrumen Integrasi dan Resilien Nasional

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Pancasila tetap memiliki potensi sebagai instrumen integrasi nasional yang kuat. Sebagai konsensus nasional yang fundamental, Pancasila merepresentasikan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk hidup bersama dalam keragaman[49].

Fungsi integratif Pancasila mencakup dua dimensi penting: pertama, Pancasila berfungsi sebagai sarana pemersatu dalam masyarakat yang plural; kedua, Pancasila menawarkan prosedur dan nilai-nilai untuk menyelesaikan konflik secara damai dan konsensual melalui musyawarah[50].

Untuk memastikan relevansi Pancasila di masa depan, diperlukan:[51]

  1. Revitalisasi pemahaman Pancasila melalui pendidikan yang transformatif, bukan sekadar indoktrinasi
  2. Kontekstualisasi nilai-nilai Pancasila untuk merespons tantangan kontemporer tanpa mengubah prinsip fundamentalnya
  3. Participatory interpretation yang melibatkan berbagai stakeholder masyarakat dalam merumuskan makna Pancasila
  4. Institusionalisasi nilai-nilai Pancasila dalam sistem hukum, ekonomi, dan politik yang konkret dan terukur
  5. Rekonsiliasi terhadap pengalaman traumatik penggunaan Pancasila sebagai alat represi di masa lalu

Kesimpulan

Pancasila dalam kajian sejarah menunjukkan perjalanan yang kompleks dan dinamis sebagai ideologi negara Indonesia. Dari proses perumusannya yang panjang melibatkan tokoh-tokoh pendiri bangsa dengan berbagai latar belakang ideologi, hingga implementasinya dalam berbagai era pemerintahan yang berbeda-beda, Pancasila telah membuktikan fleksibilitas dan relevansinya sebagai platform integratif bagi bangsa yang plural.

Namun, perjalanan sejarah Pancasila juga menunjukkan bahwa ideologi ini rentan terhadap penyalahgunaan untuk kepentingan penguasa. Di era Orde Baru, Pancasila diubah dari ideologi yang humanis dan liberatif menjadi instrumen represi. Pengalaman ini mengajarkan pelajaran penting bahwa ideologi, sekuat apapun nilainya, hanya dapat bertahan sebagai perekat nasional jika diimplementasikan dengan jujur, transparan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Di era reformasi dan kontemporer, Pancasila telah mengalami pemulihan makna melalui amandemen UUD 1945 yang memperjelas nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalamnya. Namun, tantangan baru dari polarisasi politik, oligarki ekonomi, politisasi agama, dan krisis lingkungan global menuntut reinterpretasi Pancasila yang kontekstual dan partisipatif.

Relevansi Pancasila di masa depan bergantung pada kemampuan bangsa Indonesia untuk melakukan dua hal secara sekaligus: pertama, mempertahankan nilai-nilai fundamental Pancasila sebagai komitmen ontologis terhadap pluralisme, kemanusiaan, dan keadilan; kedua, mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam sistem institusional, ekonomi, dan politik yang responsif terhadap dinamika sosial kontemporer.

Dengan demikian, Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, melainkan visi hidup yang terus perlu diperbaharui dan direalisasikan dalam praktik nyata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hanya dengan komitmen ini, Pancasila dapat tetap berfungsi sebagai sumber inspirasi dan pedoman bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan.

Tim Penyusun: Moh Rifan; Syahriza A.A.; Sayyidatun Nashuha B.; Resa Yuniarsa Hasan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *